Cara Orang Tua di Jerman Menanamkan Kemandirian pada Anaknya



Pergi ke sekolah sendiri. Naik kereta bawah tanah sendiri. Memotong makanan dengan pisau tajam juga dilakukan sendiri. Begitulah antara lain sisi kemandirian anak-anak di Jerman. Ya, kebanyakan anak terbiasa melakukan sendiri, tanpa sedikit-sedikit minta bantuan kepada orang lain atau orang tua nya


Tentang Pola Asuh di Jerman yang menanamkan kemandirian pada anak ini disampaikan oleh Sara Zaske. Kebetulan Sara membesarkan anak-anaknya di Berlin, Bun, selama enam tahun.



Jadi Sara adalah orang Amerika Serikat kemudian pindah ke Berlin karena suaminya mendapat jabatan akademis. Ketika pindah, anak Sara masih berusia balita.



Awalnya, Sara bangga karena berada di antara orang tua yang cukup santai. Tapi Sara terkejut ketika mengetahui di Jerman dia merupakan 'orang tua yang tegang dan protektif'. Sementara orang tua lainnya di Jerman justru terlihat lebih santai karena mengizinkan anak-anak mereka melakukan berbagai hal. 



Kata Sara, orang tua Amerika berusaha menjaga agar anak-anak tetap aman dengan segala cara. Sedangkan di Jerman, prinsip utama membesarkan anak adalah dengan menanamkan selbstandigkeit yang berarti kemandirian atau otonomi. Nah, itu berarti orang tua memberi kebebasan pada anak untuk mengatur situasinya sendiri.



Saat si kecil berusia delapan tahun dan meminta izin untuk pergi ke sekolah sendiri, jujur ada rasa berat di hati Sara. Tapi nyatanya, putri kecilnya adalah satu-satunya yang masih diantar ke sekolah oleh orang tuanya. Sehingga kemudian Sara belajar untuk mempercayai anaknya, bahwa si kecil akan baik-baik saja pergi ke sekolah sendiri sebagaimana teman-teman anaknya. 

Bahkan seorang anak bernama Maya, teman sekolah anaknya, di usia 8 tahun sudah berani naik sepeda di jalan yang ramai. Maya pun berani melintasi persimpangan jalan yang ramai. Bukan cuma Maya, tapi banyak anak lain yang melakukannya.


"Setiap pagi, gerombolan anak-anak memenuhi lingkungan kita, berjalan dan bersepeda ke sekolah. Pada sore hari, mereka di sana lagi untuk pulang. Mereka bermain di taman bermain Mereka masuk dan keluar dari toko roti dan toko lainnya ditemani anak-anak lainnya," tulis Sara dalam buku Achtung Baby: An American Mom on the German Art of Raising Self-Reliant Children.



Butuh Waktu untuk Mengubah Pikiran



Kata Sara, ia membutuhkan waktu untuk mengubah pikirannya. Saat memulai, Sara ragu apa bisa membiarkan putrinya jalan bersama teman-temannya. 



"Dia dengan cepat menunjukkan perbedaan yang dibuat untuknya. Misalnya saat kami memintanya membeli gulungan roti di toko roti, dia kembali dengan senyum di wajahnya. Dia sangat bangga dengan apa yang bisa dia lakukan karena dia merasa mampu," tambahnya.



Saat itu juga Sara sadar, bahwa orang tua itu nggak selalu memiliki peran untuk melindungi dan memberi tahu anak apa yang harus dilakukan sepanjang waktu, tapi untuk mengajarinya bagaimana melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Setelah itu, orang tua juga harus belajar 'melepaskan' anak, membiarkan mereka melakukan sesuatu dengan kepercayaan yang kita berikan. Hiks, terkadang itu sulit, iya, suliiiit banget.



Anak-anak Jerman, menurut Sara, diinstruksikan dengan baik dan kemudian dipercaya untuk mengelola risiko sendiri. Nah, persiapan adalah kuncinya. Di sekolah, misalnya, ada kurikulum khusus untuk pendidikan lalu lintas. Bahkan anak-anak dipercaya melakukan proyek memasak sejak usia tiga tahun, juga memotong buahnya sendiri dengan pisau. 



"Anak-anak berusia lima tahun diajarkan (tentunya di bawah pengawasan ketat) untuk menggunakan korek api dan memahami bagaimana menangani kebakaran dengan aman," lanjut Sara.



Sementara di ruang bermain di luar kota, lebih ditekankan pada petualangan. "Ruang-ruang ini dirancang khusus untuk mendorong anak-anak agar memahami risiko permainan liar dan bebas," tulis Sara seperti dilansir Independent.



Anak Butuh Bermain Bebas



Alam juga memainkan peran penting dalam setiap masa kanak-kanak Jerman. Selain itu pentingnya waktu di luar rumah diabadikan sebagai prinsip utama pendidikan sejak awal.



"Model penitipan anak di Jerman dan 'lepas tangan', membantu mendukung kesehatan dan kesehatan mental yang lebih baik di masa dewasa," ucap Sara mengutip Peter Gray, seorang psikolog penelitian dari Boston College.



Kata Peter, ada korelasi kuat antara berkurangnya anak bermain bebas dan meningkatnya gangguan mental di kalangan anak muda di Amerika.



Dari penjelasan Peter, tujuan evolusioner bermain adalah membiarkan anak-anak berlatih mengendalikan perilaku mereka sendiri, memecahkan masalah mereka sendiri, juga merencanakan dan melaksanakan rencana tersebut. Ketika orang dewasa ada di sekitar mereka, mereka tidak bertanggung jawab atas aktivitas mereka sendiri karena ada orang dewasa di sana yang memberi tahu apa yang harus dilakukan, memecahkan masalah mereka, atau menasihati mereka.



Melepaskan anak di Jerman, bukan berarti orang tuanya tidak peduli dan tak khawatir. Kata Sara, orang tua tetap mengamati. Ya, sikap mandiri tidak datang sendiri. Untuk menciptakannya dibutuhkan kerja sama antara kita sebagai orang tua dan si kecil.



Kata dr Meta Hanindita SpA, mengajarkan anak mandiri bukan sekadar melatih kemampuan mengurus diri saja. Tetapi, dengan melatih anak mandiri, orang tua juga bisa menumbuhkan rasa pecaya diri dan self-esteem yang sehat. Hal ini penting untuk dasar pembentukan karakter anak.

Menurut dr Meta, melatih anak mandiri sudah bisa dilakukan sejak anak berusia 2 tahun. Tapi jangan lupa, atur dulu lingkungan rumah supaya cukup bersahabat untuk anak.


"Maksudnya di sini aman digunakan anak dan meminimalkan risiko yang bisa terjadi. Misal pilih tempat sampah yang mudah dijangkau anak, pilih peralatan makan yang bebas pecah dan letakkan keranjang mainan di lantai," terang dr Meta dalam bukunya 'Play and Learn'. 



sumber : https://www.haibunda.com/psikologi/d-3895335/cara-orang-tua-di-jerman-menanamkan-kemandirian-pada-anaknya

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.